Cantiknya Wujud : Keindahan Nan Maha Indah (1)

May 23rd, 2008 6 Comments »
sebagaimana padi adalah bukti bijibijian, pula kekupu adalah bukti kepompong
duhai Saki, sebagaimana arak adalah bukti e-angguran, pula mabuk adalah bukti kepayang
demikian pula Pengingat, sang dzaakir, adalah bukti akan yang diingat
dan IndahNya, lukisan alam mayapada, adalah bukti akan KeindahanNya

Cantiknya wujud adalah lautan keindahan tiada tara yang dilihat oleh hamba-hamba yang tenggelam dalam samudera IngatanNya akan diriNya sendiri. Maka, jelas dalam jiwa-jiwa mereka adalah nyanyian merdu alastu birobbikum. Apa yang mereka lihat? Samudera dalam sekendi air, bahkan segenap kehidupan dalam setetes air. Mentari dalam rembulan, bahkan Sang Maha Matahari Bersinar di dalam hati namun sejuk sekali. Kesucian Nya Yang Maha Suci dalam tasbih-tasbih, bahkan dalam desahan dan keluhan.

Kehidupan ini bagi Pengingat, adalah Nan Diingat
Keberadaan ini bagi Pecinta, adalah Nan Dicinta
Pengingat -lah nan Diingat, dan nan dingingat -lah pengingat
Sebagaimana Layla tampak bagi Majnun, walau di mata domba, dan Majnun tampak bagi Layla walau dibalik domba

Bahwasanya orang yang senantiasa tenggelam dalam ingatan kepadaNya adalah diriNya sendiri, sebagaimana menurut Ibn ‘Arabi (q.s.) tentang makna man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu, barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.

Dituliskan oleh kekasih orang-orang beriman di akhir zaman, Imam Ruhullah Al-Musawi Khomeini dalam al-aadab al-ma’nawiyyah li ash-sholah, Allah Ta’aala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam (dalam al-Kafiy); Wahai Musa, jangan tinggalkan dzikir (kepada)-Ku dalam setiap perkara. Beliau juga mengutipkan sebuah hadits mulia dari Ash-Shodiq (‘alaihis-salaamu); Allah Ta’alaa berfirman ; Wahai Bani Adam, ingatlah Aku dalam dirimu, (niscaya) aku akan ingat dirimu di dalam diri-Ku. Juga dalam Al-Kaafiy yang mulia, Beliau ( Ash-Shadiq ‘alaihis-salaamu) bersabda; Adz-dzaakiru (Orang yang berdzikir) kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tengah-tengah orang yang lupa bagaikan orang yang mati dari orang-orang yang berperang ( al-muhaaribiina al-ghoziina). Continue reading »

Semua bertasbih kepadaNya

May 23rd, 2008 No Comments »
  1. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepadaNya. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan PujianNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Asro’44).
  2. Moga Ia Ampuni segenap dosa di malam ini, jadikan esok lebih ceria dan bahagia … Moga pula ia bukakan tabir hingga hati ini seolah mendengarkan tasbih segala sesuatu padaNya. Amien Amien Amien

Logika Menentang Agama

March 23rd, 2008 17 Comments »

“Man tamanthaqa faqad fazandaqa”, demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, “Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir”. Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan atau secara fuzzy ? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini fuzzy atau relatif?

Logika adalah kaidah-kaidah berfikir. Subyeknya akal-akal rasional. Obyeknya adalah proposisi bahasa. Proposisi bahasa mencerminkan realitas, apakah itu realitas di alam nyata ataupun realitas di alam fikiran. Kaidah-kaidah berfikir dalam logika bersifat niscaya atau mesti. Penolakan terhadap kaidah berfikir ini mustahil (tidak mungkin). Bahkan mustahil pula dalam semua khayalan yang mi\ungkin (all possible intelligebles). Contohnya, sesuatu apapun pasti sama dengan dirinya sendiri, dan tidak sama dengan yang bukan dirinya. Prinsip berfikir ini telah tertanam secara niscaya sejak manusia lahir. Tertanam secara spontan. Dan selalu hadir kapan saja fikiran digunakan. Dan harus selalu diterima kapan saja realitas apapun dipahami. Bahkan, lebih jauh, prinsip ini sesungguhnya adalah satu dari watak niscaya seluruh yang maujud (the very property of being). Tidak mengakui prinsip ini, yang biasa disebut dengan prinsip non-kontradiksi, akan menghancurkan seluruh kebenaran dalam alam bahasa maupun dalam semua alam lain. Tidak menerimanya berarti meruntuhkan seluruh bagunan agama, filsafat, sains dan teknologi, dan seluruh pengetahuan manusia.

Sebagai contoh perkataan ‘Ibn Taimiyyah di atas, jika misal pernyataan itu benar, maka menggunakan kaidah logika adalah salah. Karena menggunakan kaidah logika salah, maka prinsip non-kontradiksi salah. Kalau prinsip non-kontradiksi salah . Artinya seluruh kebenaran tiada bermakna, tidak bisa dibenarkan ataupun disalahkan, atau bisa dibenarkan dan disalahkan sekaligus. Kalalu seluruh keberadaan tidak bermakna, maka pernyataan itu sendiri “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” juga nafi. Tak bermakna. Tak perlu dipikirkan. Continue reading »

Antara Cinta, Iman dan Akal

December 26th, 2007 4 Comments »

Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya.

Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).

Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ;

  1. Cinta ini bergerak menuju kepada Allah. Ma’syuq (obyek yang dicintai)-nya hanyalah Allah SWT.
  2. Cinta ini mengalir pada semua yang maujud; bintang, bulan, matahari dan yang ada di sekalian alam.

Dalam pandangan ini, seluruh keharmonisan alam adalah tanda aliran ‘isyq(Cinta) dalam segala sesuatu. Continue reading »

Download

December 5th, 2007 1 Comment »

Al-Asma al-Husna

Cantiknya Wujud

Risalah Derita

Renungan

Manifestasi-Nya

Bukti Ketunggalan

Dzikir & Hud

Logika

Jamak Hingga Tunggal

Cengkrama Ceria Cinta

Kefaqiran Ruhani

Nihilo

Makrifatul Maad

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”

November 29th, 2007 2 Comments »

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?” Mulla Sadra mengutip ayat ini dalam prolog salah satu bukunya, dan kutipan ini menjelaskan suatu hal yang amat mendalam. Tuhan menyaksikan diriNya sendiri dalam seluruh manifestasi-manifestasinya, yang merupakan seluruh maujud yang memancar dari CahayaNya dan WujudNya yang Tiada Terhingga. Sedangkan filosof adalah saksi dari Yang Nyata, menjadi manifestasi penyaksian Tuhan yang sumbernya hanya bisa dalam Tuhan dan oleh karena itu mengamalkan penyaksian (syahadah) yang paling otentik. (Saduran dari Christian Jambet, “The Act of Being: The Philosophy of Revelation in Mulla Sadra”, Zone Books, New York, 2006)

Premis 1 Tidak ada yang lebih jelas dan meliputi ketimbang keberadaan.

Uraian : Segala yang ada tidak benar-benar ada sebelum memiliki keberadaan. Keberadaan merupakan “cahaya” yang menjelaskan kesangathakikatan segala sesuatu. Oleh karena itu niscaya keberadaan lebih jelas ketimbang semua yang dijelaskannya.

Premis 2 Tuhan adalah keberadaan mutlak yang tidak dibatasi oleh kekurangan apa pun.

Uraian : Tuhan adalah realitas keberadaan mutlak. Sumber dari semua keberadaan. Bila Tuhan bukan keberadaan mutlak tanpa batas, maka ada yang membatasi Tuhan. Maka sesuatu yang terbatas dan memiliki sifat-sifat ketidaksempurnaan bukanlah Tuhan. Oleh karena itu Tuhan adalah hakikat keberadaan mutlak tanpa batas.

Sebagai implikasi dari premis 1 dan premis 2 adalah : Tuhan (yakni keberadaan mutlak tanpa batas) adalah Yang Maha Jelas dan menjadi Penjelas bagi semua selainNya. Tuhan menjadi Saksi bagi DiriNya dan bagi semua selainNya. Maka jelaslah makna firmanNya : “Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”

(Wallahu a’lam bish-shawaab, to be continued)

“Apakah tidak cukup bahwa TuhanMu menyaksikan segala sesuatu?”

Antara Cinta, Iman dan Akal

October 30th, 2007 No Comments »

Al-‘aqliyyuun yakin bahwa esensi manusia adalah “keberpikirannya”. Bagi mereka semakin sempurna seorang manusia, semakin sempurna pula pemikirannya. Karena itu insan kamil (manusia sempurna) menurut pandangan ini adalah orang yang paling sempurna nalarnya, dalam arti telah menyingkap rahasia wujud (keberadaan) sebagaimana kenyataannya. Tafakkur, -dalam pengertian rasionalnya-, merupakan satu aktifitas utama yang menghantarkan manusia mencapai tujuannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil – albaab. (Yaitu) orang-ornag yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi : ` Yaa Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran 190-191).

Di sisi lain, para ‘urafa, meyakini bahwa esensi manusia adalah al-qalb (hati). Dalam pandangan ini ihsas(rasa) dan ‘isyq (Cinta) manusia mempunyai nilai lebih dibanding tafakkur – nya. Perlu dicatat di sini bahwa ‘isyq bukanlah dalam arti cinta seksual seperti cinta pada umumnya. Ada dua ciri ‘isyq menurut para ‘urafa ; Continue reading »

Meraih Kemakmuran, Umur Panjang dan Kebagiaan Dunia dan Akhirat Melalui Silaturrahim

October 19th, 2007 2 Comments »

Kita ada di suatu zaman yang benar-benar dipenuhi paradox. Survey statistik mengenai kebahagiaan ternyata menunjukkan 90% orang yang sukses secara materi tidak bahagia. Richard Gene Niemi, John Mueller dan Tom W Smith dalam Trends in Public Opinium : A Compendium of Survey Data 1998 melaporkan bahwa “Kenaikan penghasilan 250% dalam empat dekade terakhir di Amerika ternyata tidak menambah kebahagiaan dan kepuasan hidup mereka, malah menurunkannya.

Kompetisi dan pengejaran sukses yang berdasarkan nilai-nilai materialisme terbukti membawa manusia pada kehampaan dan kesuksesan palsu. Mereka membawa manusia modern kehilangan makna, too busy to love, too busy to care (terlalu sibuk untuk peduli), dan Dysthymia.

Pembinaan silaturahim yang tulus dan ikhlas membuat kemakmuran dapat dicapai tanpa harus mengorbankan kebahagiaan spiritual. Silaturahim membuat kita lebih kaya dan makmur, baik secara jasmaniah maupun ruhaniah. Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw, ” Aku ingin Tuhanku menyayangi aku. Beliau berkata “Sayangi dirimu dan sayangi semua makhluk Tuhan. Nanti Tuhan akan menyayangi kamu”. Dalam sebuah riwayat lain : ” Demi Yang diriku dan di tanganNya, tidak akan masuk surga orang yang tidak menyayangi. Para Sahabat berkata, “Kami semua ini orang yang menyayangi” Rasulullah bersabda,” Tidak … sebelum kamu menyayangi seluruh makhluk.”

Lebih jauh Continue reading »

Manifestasi-Nya (1) : Sebab Segala Sebab

September 29th, 2007 No Comments »

Apakah Dia adalah Sebab Efisien segala sesuatu, Yang Awal dari Yang Awal, ataukah Dia adalah Sebab Final (baca pula; tujuan akhir atau nihayah akhir) segala sesuatu, Yang Akhir dari Yang Akhir?

Dari , Sang Nabi-Nya Filsuf, Aristo (-teles), (menurut pemahaman yang teramat rendah dari alfaqr);

  • Seluruh keberadaan adalah gerakan, karena ada berarti mengada dan mengada berarti diketahui efeknya (atsar-nya) oleh selainnya, dan tak mungkin diketahui efeknya oleh selainnya bila semuanya sama tanpa beda (baca pula; perubahan atau gerakan) satu terhadap yang lain.
  • Seluruh gerakan memerlukan penggerak (mover), tak mungkin ada gerakan tanpa penggerak, karena bila ada, gerakan dengan non-gerakan menjadi identik.
  • Jika setiap gerakan memerlukan penggerak (mover), dan jika semua penggeraknya bergerak, maka memerlukan penggerak juga, maka mustahil rantai gerakan-penggerak, gerakan-penggerak, gerakan-penggerak ,…., ini tak berujung, karena bila tak berujung ini akan berakibat nihilnya semua gerak tersebut. Melainkan harus mencapai suatu prime-mover, Penggerak Pertama, yakni penggerak yang tak bergerak, sehingga tak memerlukan penggerak lagi. Continue reading »

Kausalitas dan Korespondensi

September 18th, 2007 4 Comments »

Rangka-nya rangka dari seluruh sains maupun ilmu pengetahuan. Tidak lebih dan tidak kurang. Itulah prinsip kausalitas.
Ketika Newton melihat apel jatuh, konon, ia berfikir mestinya ada sesuatu yang mewujudkan jatuhnya apel. Ini-lah yang meniscayakan adanya gravitasi dalam fisika. Ketika Mendell melihat keteraturan sifat - sifat hereditas, ia berfikir mestinya ada sesuatu yang mewujudkan keteraturan sifat - sifat hereditas. Keyakinan ini menumbuhkan teori genetika.
Prinsip kausalitas berbunyi ,

“Segala sesuatu membutuhkan sebab untuk meng - ada, kecuali keberadaan itu sendiri.” Sifat penting kausalitas pertama adalah keselarasan; yaitu satu sebab yang sama akan menghasilkan akibat yang sama. Selain itu adalah sifat kesemasaan sebab dan akibat, serta sifat relasi eksistensial antara sebab dan akibat.

Prinsip kausalitas adalah hukum dasar alam. Karena tanpa menerima prinsip kausalitas sebagai hukum dasar alam, yang merupakan salah satu dari the very properties of being, tidak mungkin kita meniscayakan satu hukum apa pun yang bersifat umum bagi alam.

Continue reading »